Rabu, 06 November 2019

Sosok Hoesein Djajadiningrat


Pangeran Ario Hoesein Djajadiningrat dilharikan di Desa Kramat Watu yang terletak antara Serang dan Cirebon pada 8 Desember 1886. Ayahnya bernama raden Bagoes Djajawinata, sedangkan ibunya bernama Ratu Salehah, putri Ratu Bagus Muhamad Isfak seorang asisten wedana cening. Hosenein dengan nama panggilan Atje, sebelum dimasukkan ke sekolah Barat belajar Bahasa Belanda terlebih dahulu dari Ruselar, seorang komandan polisi di Menes, yang memiliki Hood Acte (diploma guru bantu).

Hosein Djajadiningrat sangat rajin belajar Bahasa Belanda dari Ruselar, karena cara mengajarnya yang baik, menyenangkan dan mudah dipahami. Hoesein yang saat itu sudah berumur enam tahun dimasukkan ke dalam ELS, di serang. Ia tingal di rumah RA Sutaddiningrat, kakak kandung ayahnya. Pengalamannya semakin luas terutama setelah ayahnya diangkat menjadi Bupati Serang dan Hosein berada dalam pengawasan keluarganya sendiri. Hosein kemudian menlanjutkan sekolah di Batavia.

Di Batavia ia tinggal di asrama sekolah Kok En Van Digglen, suatu sekolah praktikiler kelas enam. Ia juga belajar musik terutama piano untuk menghibur diri. Selama di Batavia Hosein berhubungan akrab dengan Dr. C Snouck Hurgronye yang melatihnya dalam mata pelajaran karang-mengarang. Pada tahun 1899 Hoesein berhasil lulus dengan pujian nomor satu. Hoesein diizinkan mengikuti ujian masuk Willem III atau HBS B dengan masa belajar lima tahun. Ia ikut keluarga Postma, seorang kepala ELS di Jatinegara.

Ketika ayahnya meninggal di tahun 1899, Hosein sudah diterima di HBS Batavia kelas I. Ketika duduk di kelas III makin terlihat kecerdasan Hosein. Karena itu Dr. C Snouck minta kepada orang tuanya untuk mengirim Husein belajar ke Negeri Belanda di bawah bimbingannya. Di negeri belanda Hosein mempelajari bahasa latin dan yunani kuno.

Pada tahun 1905 Husein diterima di universitas Leiden jurusan bahasa dan kesusastraan Nusantara. Pada mulanya hoesein mempelajari ingin belajar menjadi hakim, tetapi maksud ini kemudian dibatalkan karena di tanah air tidak atau belum memungkinkan seorang bumiputera di terima menjadi hakim atau pengadilan menerimanya sementara pada zaman itu sedang masa penjajahan.

Artikel Terkait

Sosok Hoesein Djajadiningrat
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email