Senin, 13 Mei 2019

Sosok KH. Abdul Halim


Abdul halim lahir di kampung cibarelang, majalengka jawa barat pada 17 juni 1887 kedua orang tuanya ttat menjalankan agama dan terpandang di masyarakat. Ayahnya seorang penghulu di jatiwangi kota cirebon. Sejak kecil abdul halim mendapat pendidikan agama sesuai dengan lingkungan keluarganya. Dalam usia sepuluh tahun ia mempelajari al-qur’an dan hadist pada pesantren milik Kiai Haji Anwar di kampung Ranji Wetan, Majalengka.

Selanjutnya ia belajar pada Kiai Haji Badullah di Kampung Lontang Jaya dan di Peantrren Bobos Cirebon pada Kiai Haji Sudja, ia kemudian pindah belajar pada Kiai Haji Akhmad Saubari di Pesantren Ciwedus, Cilimus (Kuningan) dan pada Kiai Haji Agus di salah satu pesantren di Konayangan, Pekalongan. Dari pekalongan abdol halim kembali menuntut ilmu di pesantren ciwedus. Demikianlah pendidikan yang ditempuh oleh abdoel halim. Ia pindah dari pesantren satu ke pesantren lain.

Pada tiap-tiap pesantren ia belajar satu sampai tiga tahun sampai ia berusia 22 tahun. Sebagai seorang muslim yang taat abdul halim juga memperdalam ilmu agama dan tertarik pada karya tulis Muhammad Abduh dan Djamaluddin Al-ghifari untuk dijadikan bahan diskusi dengan teman-temanatau kadang-kadang dijadikan topik ceramahnya. Selama di Mekkah ia berguru antara lain pada Seh Ahmad Khatib dan Seh Ahmad Khatayyath.

Di sana pula ia kemudian bertemu dengan Haji Mas Mansoer yang kemudian menjadi pimpinan Muhammadiyah dan Kiai Haji Abdoel Wahab Chasboellah, pendiri NU serta banyak lagi teman yang berasal dari Sumatera. Pada tahun 1911, sepulangnya dari Mekkah, Abdoel Halim mendirikan sekolah agama di daerahnya.

Ia ingin mengajarkan ilmu agama yang banyak pengetahuan yang telah didapatnya dari tanah suci, antara lain pengetahuan di bidang pendidikan agama dengan sistem halakah yaitu sistem kelas yang menggunakan meja dan kursi serta pelajarannya disusun berdasarkan kurikulum seperti yang dijalankan pada masa sekarang ini. Di samping faktor yang mendorong abdoel halim melaksanakan maksudnya ialah karena sikap dan tindakan kaum priyayi yang menganggap rendah pada keluarganya.

Artikel Terkait

Sosok KH. Abdul Halim
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email