Rabu, 05 September 2018

Candi Ceto


Candi Sukuh dan Candi Ceto hampir selalu diucapkan beriringan. Jika datang ke Sukuh, artinya harus sekalian ke Ceto karena jaraknya tidak terlalu jauh, yakni 10 kilometer. Butuh waktu 15 menit jika menyewa ojek sepeda motor. Letaknya di Desa Ceto, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berada di ereng Lawu, pada ketingian 1.496 meter dari permukaan laut. Ceto diucapkan dengan “t” tebal.

Dalam terjemahan aksara jawa, “t” tebal itu ditulis “th” karena itu sering juga nama candi ini ditulis Cetho atau Cetha. Berdirinya Candi Ceto berkait dengan larinya Raden Brawijaya, raja terkahir Kerajaan Majapahit, dari kejaran putranya, Raden Patah penguasa Demak, setelah Patah mengubrak abrik Sukuh. Brawijaya lari ke arah timur laut, mendirikan Candi Ceto ini. Candi belum rampung dibuat ternyata bertambah satu yang mengejar, yakni Adipati Cepy akibat pertikaian lama.

Maka Brawijaya lari lagi dan akhirnya moksa di Puncak Lawu. Di banding Sukuh, Ceto lebih familier bagi masyarakat Hindu dan Kejawen karena hingga sekarang Ceto berfungsi pula sebagai pura dan petilasan sedangkan Sukuh bukanlah rumah ibadah. Saat masih di Candi Sukuh kondisi Ceto berbeda dengan Sukuh. Ceto sangat Hindu Bali. Penduduk sekitarnya masih beragama Hindu, sedangkan penduduk seputar Sukuh sebagaimana umumnya masyarakat Karanganyar adalah muslim.

Benar kiranya sebelum mencapai candi, sempat ada pintu pagar rumah-rumah penduduk berbentuk gapura bentar, yakni gunungan yang dibelah dua secara vertikal, mirip pintu masuk pura. Ada yang dari bata ada juga dari batu berwarna hitam. Gapura bentar pula yang merampok perhatian begitu mencapai loket Candi Ceto. Tingi, besar, hitam dan berhadap-hadapan. Harus mendaki beberapa langkah untuk mencapai anak tangga yang mengantar ke gapura bentar.

Persis sebelum anak tangga pertama ada dua arca berpunggungan. Satu menghadap pintu masuk satu lagi menghadap tangga. Menurut brosur yang dikeluarkan Dinas Pariwisata Karanganyar, sepasang arca ini menujukkan sikap ambiguitas di tahap awal ketika manusia ingin bertobat. Kenangan tentang masa lalu yang susah dilepaskan ketika melangkah maju.

Artikel Terkait

Candi Ceto
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email